Betting software_Introduction to Indonesia Lottery_Indonesian odds_Foreign betting platforms_Texas Hold'em Download

  • 时间:
  • 浏览:0

Percerbet36 sports bettingaian bet36 sports bettingmasih menjadi hal yang tabu untubet36 sports bettingk dibicarakan, dilihat dan didengar oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Ya, bahkan di luar negeri pun masalah perceraian tetap jadi hal yang nggak pantas dan seringkali dikecam. Untukmu yang berpikir untuk bercerai, siap-siap saja bakal dapat komentar miring kanan kiri, entah untukmu atau pasangan. Bahkan nggak sedikit yang bakal menguliahi seputar menjaga keutuhan rumah tangga.

Kalau sebelumnya kamu dan pasangan adalah pasangan bekerja, mungkin berpisah nggak akan seberat kalau kamu bergantung finansial sepenuhnya kepada pasangan, atau sebaliknya. Ya, sederhananya sih, setelah bercerai mungkin kamu akan kelabakan mencari nafkah sendiri, padahal selama ini kamu mengandalkan suami atau istri sepenuhnya. Belum lagi urusan bagi harta gono gini (kalau ada) dan harus mengurus biaya perceraian sendiri.

Untukmu yang masih bimbang dan ragu, sebaiknya konsultasikan lagi permasalahan ini dengan orang-orang yang lebih dituakan atau lebih dewasa, pemuka agama tempatmu beribadah atau psikolog agar jangan sampai keputusanmu jadi penyesalan di kemudian hari.

Ini adalah sejumlah risiko yang akan dialami anak saat kedua orangtuanya bercerai:

Sekedar gambaran, saat bercerai kamu harus membayar sewa pengacara dan biaya administrasi di pengadilan untuk mengurus putusan cerai. Kasarnya sih biayanya kira-kira seperti ini:

Berpisah memang bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, sebelum memutuskannya, alangkah baiknya kamu dan pasangan sungguh-sungguh memikirkan ulang keputusan tersebut. Memang sih, terkadang hubungan pernikahan yang ternoda kisah perselingkuhan, perasaan dibohongi atau dikhianati jauh lebih sulit dihadapi. Apalagi kalau ditambah kasus KDRT, maka terkadang perceraian jadi kasus yang bak buah simalakama. Tapi coba ingat-ingat lagi deh, janji awal pernikahan kalian. Tetap bersama saat suka dan duka, bukan sekadar untaian kata manis saat di pelaminan ‘kan? Semoga artikel ini bisa memberi pencerahan ya!

Pasca bercerai, akan ada banyak penyesuaian yang harus kamu lakukan. Selain cibiran kanan kiri (terutama biasanya dari orang terdekat), sindrom Post-Divorce Blues bakal kamu rasakan sebagai dampak perpisahan. Mau itu pisah baik-baik maupun pisah disertai keributan, berpisah ya tetap bakal menyisakan kepedihan, kesepian dan rasa ‘ditelantarkan’. Siap-siap saja jadi super sensitif, galau, mudah menangis dan kesal tanpa alasan yang jelas pasca perceraian.

Nggak bisa dimungkiri, di Indonesia perceraian masih erat kaitannya dengan agama. Banyak kepercayaan yang masih melarang atau sebenarnya nggak mendukung praktik perceraian tersebut.

Nggak perlu dijelaskan lagi ‘kan, kenapa pasca bercerai hubungan dengan mertua dan para ipar serta keluarga besar pasangan jadi bagaimana pasca perceraian? Pastinya sih nggak bakal sama seperti saat kamu pertama menikah dulu.

Apa yang pertama kali terlintas di benakmu saat mendengar kata perceraian? Tentunya tak ada yang benar-benar menginginkan perpisahan bernama perceraian, yang nggak cuma merusak hubungan baik tapi juga mentalmu dan pasangan. Terlebih kalau rumah tanggamu sudah dikaruniai seorang anak, maka perceraian bakal jadi masalah yang semakin pelik dan menyakitkan banyak pihak.

Nggak cuma mentalmu yang bakal terganggu saat dihadapkan pada perceraian, anak pun bakal kena imbasnya. Sebaik apapun usaha orangtua untuk menjaga agar perceraiannya tetap damai dan jauh dari huru hara, tetap saja anak bakal jadi korbannya. Ya, siapa sih yang ingin orangtuanya berpisah dan nggak lagi tinggal rukun serumah?

Meme bercerai dalam busana pengantin saat bercerai di Ghana yang jadi viral via www.populartags.org

Dalam pernikahan, kamu nggak bisa mengharapkan hanya mendapatkan hal-hal yang indah. Ada suka duka yang harus kamu lalui dan kalau nggak sungguh-sungguh menjaga komitmen, bisa saja godaan untuk bercerai muncul. Padahal pernikahan jauh lebih kompleks dari pacaran, nggak bisa seenaknya bilang ‘putus’ kalau muncul perselisihan. Untukmu yang sedang merencanakan pernikahan, sedang menjalani pernikahan, terutama yang sedang dilanda galau ingin pisah dari pasangan, baca dulu nih 5 risiko perceraian yang sebaiknya kamu hindari!

Ingat, selama masih ada harapan, baiknya sih jauh-jauh saja lah dari kata perceraian.

Terluka adalah risiko paling utama dan pertama dirasakan saat kamu dan pasangan memilih untuk bercerai. Meskipun mungkin keputusan berpisah dianggap yang terbaik, tentu keputusan itu jauh dari kata mudah, terutama kalau kamu dan pasangan pernah benar-benar dimabuk kepayang cinta semasa pacaran dulu. Sakitnya nggak bisa terbayangkan, tuh.

Banyak konsekuensinya saat ‘lepas cincin kawin’, termasuk konsekuensi agama via www.thejournal.ie